Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Hujjatul Islam wal Muslimin Ahmad Panahian dalam majelis duka yang digelar sore ini di Haram Sayidah Maksumah (SA) menyinggung pentingnya menjaga agar darah para syuhada tetap hidup.
Ia berkata: "Imam kita yang syahid pernah bersabda: Kadang-kadang kesulitan menjaga darah seorang syahid tetap hidup tidak lebih ringan daripada syahid itu sendiri."
Menurutnya, sebagian orang keliru mengubah ungkapan tersebut menjadi "menjaga kenangan dan memori para syuhada tetap hidup", padahal yang dimaksud Imam adalah menjaga darah syahid tetap hidup dan melanjutkan jalan perjuangannya.
Panahian menambahkan: "Imam Sajjad (AS) selama tiga puluh lima tahun berjihad untuk menjaga darah Sayyidusy Syuhada tetap hidup. Sayidah Zainab (SA) juga melakukan perjuangan besar dalam jalan tersebut."
Kebangkitan Saja Tidak Cukup
Dengan merujuk kepada kondisi masyarakat Kufah pasca-Asyura, Panahian mengatakan: "Darah Imam Husain (AS) telah membangunkan masyarakat, tetapi kebangkitan itu saja belum cukup."
Ia menjelaskan bahwa penduduk Kufah menangis dan bertobat setelah tragedi Karbala. Namun satu setengah tahun kemudian muncul Gerakan Tawwabin (Para Penyesal) dan setelah itu Kebangkitan Mukhtar. Meski demikian, tidak satu pun dari gerakan tersebut mencapai hasil yang diharapkan.
Ia kemudian bertanya: "Mengapa?"
Lalu menjawab: "Karena yang paling penting adalah landasan dan prinsip. Tidak setiap teriakan dan tidak setiap pedang yang dihunus berada di jalan yang benar. Yang utama adalah loyalitas kepada wilayah (kepemimpinan Imam) dan bergerak berdasarkan perintah Imam."
Tentang Pesan Terbaru Pemimpin Revolusi
Panahian juga menyinggung pesan terbaru Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam mengenai nota kesepahaman yang baru-baru ini menjadi perhatian publik.
Ia mengatakan: "Pemimpin Revolusi menyatakan: Secara prinsip (علیالاصول) saya memiliki pandangan yang berbeda, tetapi karena komitmen yang diberikan Presiden yang terhormat, saya mengeluarkan izin tersebut dan kini menunggu terealisasinya syarat-syarat yang telah ditetapkan."
Menurut Panahian, prinsip dasar dalam agama adalah melawan musuh dan tidak bernegosiasi dengan kekuatan-kekuatan arogan.
Ia merujuk pada Al-Qur'an yang menyatakan: "Janganlah kamu merasa lemah dan jangan menyeru kepada perdamaian, padahal kamulah yang lebih unggul dan Allah bersama kalian."
Prinsip Dasar: Perlawanan terhadap Arogansi
Panahian kemudian menjelaskan bahwa Amirul Mukminin Imam Ali (AS) menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan bahwa ayat itu turun ketika Islam telah menjadi kuat dan jumlah kaum Muslimin telah banyak.
Ia menambahkan: "Hari ini Republik Islam Iran, berkat darah para syuhada dan nikmat wilayah (kepemimpinan Islam), telah menjadi kekuatan yang tak tertandingi di kawasan. Oleh karena itu, prinsip dasarnya adalah melawan arogansi global, bukan membangun hubungan dan melakukan negosiasi."
Tidak Percaya kepada Musuh
Panahian menegaskan: "Kita tunduk kepada perintah Imam kita, tetapi kita tidak mempercayai musuh." Menurutnya, Al-Qur'an berulang kali memperingatkan agar tidak mempercayai perjanjian dan janji musuh.
Di bagian akhir ceramahnya, ia mengaitkan persoalan tersebut dengan Imam Mahdi (AF) dan berkata: "Imam Zaman kita telah menunggu selama 1.182 tahun tanpa menghunus pedang, tetapi prinsip dasarnya tetap jihad. Beliau akan bangkit dengan sunnah Rasulullah (SAW) dan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman dan penindasan."
Your Comment